Mendadak merasa
Semua hal harus diriku yang putuskan
Hai kau, adilkah?
posted by Unknown
Mendadak merasa
Semua hal harus diriku yang putuskan
Hai kau, adilkah?
posted by Unknown
Masih saja kau mengorek kenanganku yang lalu
Dan aku yakin kau memang senang berkubang dalam genangan luka
Memang kau penantang bahaya
posted by Unknown
Jika rasa dan badai dalam benak tak ingin kau tuangkan
Pun padaku,
Cukup layangkanlah sajakmu
posted by Unknown
Banyak detik terbuang percuma
Berakhir dengan kehampaan
Wajar jika yang ditunggu seperti dapat tamparan
Karena yang menunggu sudah hilang kesabaran
Untuk membuat makin jauh menenggelamkan diri ke dalam danau penyesalan
Harus terima kenyataan
Bahwa akulah yang sebabkan
Disebabkan karena kealpaan seorang insan
Maafkan
posted by Unknown
Keegoisan menumbuhkan harap
Harapan buta mesti ditunaikan
Tapi seperti biasa, kamu yang permisif selalu mengiyakan
Untuk membalasmu,
Aku harus apa?
posted by Unknown
Jika ada satu hal yang patut dinanti
Kupastikan itu
Kau
posted by Unknown
Kuharap bukan hanya karena rupa
alasanmu memetik setangkai sekar untuk kau tanam menghiasi jendela kamarmu
posted by Unknown
Ada susunan huruf yang seakan tabu, membuat detak jantung menghangus seperti abu,
Seseorang yang asing bagi kita tetapi tak asing bagimu.
posted by Unknown
Diriku tersesat di belantara aksara yang masing-masingnya mengungkapkan sebuah makna
Kemudian terperosok jurang numerik nan teoritis yang masing-masingnya mengungkap suatu misteri
Dan selama itu pula lah aku terjebak badai keraguan,
ketakpastian
kebingungan
Menunggu benak siap melontarkan apa yang dijejalkan kepadanya
Pada hari di mana semuanya menentukan.
posted by Unknown
Aku hanya ingin tahu ada apakah gerangan yang tercipta dari kata kata yang kau buat
Yang tak terjamah dan tak tertuju
Apakah di dalam sana ada
Aku?
Apakah aku yang kau
Tuju?
posted by Unknown
Dalam bisuku
Dalam diamku
Dalam ronaku
Kuamini kata katamu
posted by Unknown
Jangan khawatir akan kemampuanku mengemudi perahu
Yakinkan dirimu bahwa kita akan bertemu
Di tanjung yang satu
posted by Unknown
Mungkin ada baiknya aku tak ketahui seluk beluk duniamu
Karena langkahku mungkin juga tak akan bisa menembus batas antara duniaku dan duniamu
posted by Unknown
Our clock is still ticking.
Despite of that,
Should we stop counting?
posted by Unknown
Jadi rasanya seperti ini
Untuk menunggu-nunggu yang ditunggu
posted by Unknown
Kulihat kabut selimuti raga dan pikirmu
Lalu izinkan aku menyibak kabut itu
Sedikit demi sedikit
Dan aku akan membuka tirai yang membungkus
Sehelai demi sehelai
Agar kita bisa beradu pandang dan setara detaknya
Dan bersama
posted by Unknown
Ada asa dalam masing-masing diri
Aku dan kamu
Ada harap yang membuncah dari tiap tiap jiwa yang saling pinta
Pinta untuk saling kawani diri
Berlindung dari sergapan sepi
Dan tiap tiap insan masih menyimpan ingin
Wajah mereka memerah dan memanas; berusaha membaca harap yang terpancar dari nurani
Tenggorokan tercekat; lidah kaku
Saat utarakan bisikan kalbu
Masing masing pasti terpikir dalam benak,
"Ayolah, kau pasti mengerti"
posted by Unknown
Boleh saja kau tak percaya dan mencoba yakinkan aku berkali-kali,
Tapi kau tahu, bahwa
Sekali tembikar dibakar,
Jangan harapkan ia kembali rekah
posted by Unknown
Dum tsss dum dum tsss
JLEGEERRR
Astagfirullahaladzim... La illaha Ilallah...
He was sleeping when I arrived
Turunan tan x = sec^2 x
ZRASSSHHH....
Tik tok tik tok tik tok
That cake is made by my mum
Disinfektan bertujuan untuk membasmi patogen
Bedanya dengan sterilisasi...?
Ummm....
Apa.....?
Apa bedanya ya....?
APA BEDANYAAAA???
Oh iya
Sterlisasi untuk membasmi segala bentuk kehidupan mikroba
Deg deg. Deg deg. Deg deg.
Bismillahirrahmanirrahim
"Ya, keluarkan alat tulis, masukkan buku dan gadget. Kita mulai."
posted by Unknown
Isinya hanya aku
Tidak ada siapa-siapa.
Izinkan aku main ke duniamu.
Dan sebenarnya kita punya dunia paralel yang bisa kita huni berdua.
Silakan main ke duniaku.
Itu pun jika kau mau.
Itu pun jika kau mengerti.
posted by Unknown
Bisa kah kau menghancurkan kerikil kecil?
Atau gula?
Atau tepung?
Atau pasir?
Jangan kecil hati jika hancur, kawan
Sekarang semua tak kuasa menghancurkanmu lagi
posted by Unknown
Dalam kesunyian dan kegelapan malam
Dari jarak yang terbentang memisahkan
Dengan jiwa yang rindu akan tutur kata dan tampak
Kita masih bisa memandang sang chandra, di langit tempat ia bertakhta
Bersama-sama
posted by Unknown
Selalu ada tempat di benak untuk mengenang kata-kata,
Tetapi,
Masih ada tempat sangat lapang untuk mengenang tiap tatapan tajam dan suara yang membuat candu.
posted by Unknown
Pesanmu sudah tersaji bagai kopi di pagi hari, yang harumnya semerbak menunggu mataku membuka dari lelap
Senang membacanya, tapi maafkan, hatiku masih malu pada otakku
posted by Unknown
Jangan tanya apakah kehadiranmu membikin jemu
Malah aku menunggu
posted by Unknown
Seseorang menggores kalimat untuk kuis
"Jelaskan bagaimana 'tak harus memiliki' itu agar tak menjadi klise"
Saya masih baru. Saya dapat E.
posted by Unknown
Deru kereta di kejauhan makin lama makin mendekat membawa ratusan jiwa yang berpeluh dan lelah
Seketika kuingat kamu
Tapi bukan sekarang waktunya kamu ada bersama ratusan jiwa yang menyeruak keluar di jalur dua
Dan kalau pun ada kau, tak mungkin kau turun di jalur satu tempatku menunggu kereta yang membawaku menjauh dari kota
Kutunggu kau di jalur dua tempatnya jiwa berkumpul datang ke keagungan metropolitan.
posted by Unknown
Sinar mentarilah yang menuntunnya
Desir angin yang berkisah padanya
Alam mengajarinya banyak hal
Dan berbudi baik ia dapatkan dari kawan
Dengan begitu, ia tak butuh yang lain.
posted by Unknown
Entah mengapa makan siangku tadi tak seenak kemarin
Dan minuman kurang dapat melenyapkan dahaga
Bincang-bincang pun serasa hambar.
Entah aku yang sakit atau memang kau sedang tak ada di antara mereka
posted by Unknown
Jariku yang lebih lincah luncurkan kata-kata
Daripada lidahku
Saat aku
Berujar padamu
posted by Unknown
Begitu kikir kau dengan air matamu
Sampai-sampai harus aku yang meneteskan air mata
Untukmu
Seorang
?
posted by Unknown
Kebenaran dan kebatilan dalam ujarmu
Seperti hari Ahad dan hari Minggu
posted by Unknown
Selalu terpikir, mengingini, dan melaksanakan satu kata yang membikin tentram hati dan mendamaikan jiwa yang saling rindu.
Pulang.
(Gambar dibuat pada 2010)
posted by Unknown
Kau datang dengan berlari-lari kecil dan tanpa sungkan mengetuk pintu rumah kami.
Saat kau masuk, kami tahu kau tak akan pergi dari sini untuk waktu yang lama. Memang sudah kami kira, dan nyatanya kau adalah tamu mulia.
Dan tiba-tiba saja waktu menjemput, maghrib ini kau akan pergi bersamaan dengan hilangnya rembulan.
posted by Unknown
Aku kalut
Lalu tanganku secara serampangan mengambil sesuatu
Kamus
Apa yang dapat aku temukan dalam kamus?
Mudah-mudahan aku menemukan suatu kata asing yang dapat merenggut kekalutanku.
Aku telusuri lembar per lembar dengan ibu jariku.
Abjad 'A' aku lewati, langsung ke 'B'.
Lalu menuju 'C'
Tak ada satupun yang menarik hatiku.
D, E, F, G, H, I, J
Satu per satu, bahkan ada yang tidak kubaca; beberapa halaman.
Kemudian mataku tertuju pada huruf setelah J.
Aku mencium wangi harapan. Mendengar derik bahagia. Menangkap riang yang mengerling.
[pron.jamak] yang diajak bicara; yang disapa (dl ragam akrab atau kasar)
Kenapa tidak dari tadi terpikirkan?
posted by Unknown
Aku coba datang keharibaanMu dengan bersusah seperti serat tambang yang tinggal seutas habis dicacah.
Arang yang meng-abu ini sekarang tak ada daya karena tak henti terjang bahaya.
Mungkin telah terbit ingin yang tidak-tidak,
sampai abaikan semua akibat.
Apa istilahnya? Sombong? Takabur? Jumawa?
Abu yang seperempat arang ini sedang meregang asa,
ulurkanlah tanganMu,
kumohon
Masih kugantungkan harap padaMu.
posted by Unknown
Mengambil air untuk mensucikan diri rasanya sia-sia. Mana mungkin jadi suci jika masih kutinggalkan puluhan anak yang ditinggal bapak,
Yang mempunyai perut cekung,
Mata kelabu,
Wajah masam,
Serta ibu-ibu yang hanya bisa masak kerikil untuk makan anak-anaknya.
Kusebut namaMu,
Tapi mungkin Kau tidak mendengarkanku berseru mengagungkanMu
Hanya terdengar seperti lolongan serigala di malam purnama
yang melolong di malam hari,
dan tidak di siang hari,
seperti aku yang menundukkan kepala di hadapanMu,
di saat sunyi,
dan tidak di saat gaduh.
Dari dulu dan sekarang aku juga milikMu
Apa aku memilikiMu?
Saat matahari sepenggalahan adalah saat penentuan nasibku
Aku seperti telur di ujung tanduk,
yang bersiap akan tergelincir, pasti tergelincir,
dan saat aku tergelincir, izinkan aku menggapai lindunganMu
Esok, dihadapan puluhan mata, aku akan tak berdaya
dan Kau tahu aku dari dulu, hanya pura-pura tangguh
Di hadapanMu, aku
Kuharap Kau masih mau membukakan pintu untuk bajuku yang berlumur darah dan digelayuti nyawa tak berdosa.
posted by Unknown
Langkahmu membawaku ke tempat asing tak terjamah
Tak ada suara yang kau timbulkan, tetapi aku bisa mendengar hiruk pikuk pikiran-pikiran yang menyeruak dari benak minta ditarik keluar
Lalu kau pergi
Dan aku juga pergi
Lagipula tidak ada kata berarti keluar dari mulut untuk saling pecahkan hening
Hanya sejumput basa-basi yang penting unjuk toleransi
Denganmu aku seakan mengembara, berkenalan dengan makhluk asing, menjajal tebing terjal
Merebut pedang sakti, bertarung lawan musuh, berkelana dengan kapal selam, tapi yang sampai sekarang belum terjadi adalah sama-sama menjelajahi pikiran masing-masing
Kamu dan aku merajut angan bersama
Tapi kita berkelana di panel yang berbeda
posted by Unknown
Bukankah kita memang senang main-main?
Dari awal aku pun tak dapat raba suatu kenyataan dalam ujarmu
Bukankah kita memang penuh dusta?
Dari saat pertama aku melihatmu, tak kutemui suatu kesungguhan dalam pupilmu
Bukankah kita memang tak pernah sungguh-sungguh?
Dari dulu aku tak kuasa enyahkan rupamu yang memerangkap benakku
Bukankah kita memang saling membelenggu?
posted by Unknown
Kali ini aku hanya ingin sajak
Sajak-sajak pertama yang membawamu bersua denganku
Membawa riak gelombang putus asa jauh dari
pedesaan rasa
Sejenak lupakan badai dan gemuruh di dataran sana
Mengapa tak tenang-tenang dahulu sejenak
Selagi bencana rehat dulu dari urusan siksa?
posted by Unknown
Kau adalah merpati
Dekat namun tak kuasa dijinaki
Laksana elang, kau
Selalu mengembara lewati angkasa biru
Jauh tinggi tak terjamah diri
Tapi kau pasti kembali
Karena kuyakin kau kasihku yang abadi
posted by Unknown
Indah, tak melulu mewah dan gegap gempita
Maka itu mengertilah
Aku ingin hayati keindahan sederhana ini
Dalam hening dan sunyi
Tanpa hadir manusia, bahkan kamu
Hanya dan jua aku
Copyright Feriz' Corner 2011
Powered by Your Inspiration Web
Converted by Smashing Blogger for LiteThemes.com