Pesanmu sudah tersaji bagai kopi di pagi hari, yang harumnya semerbak menunggu mataku membuka dari lelap
Senang membacanya, tapi maafkan, hatiku masih malu pada otakku
posted by Unknown
Pesanmu sudah tersaji bagai kopi di pagi hari, yang harumnya semerbak menunggu mataku membuka dari lelap
Senang membacanya, tapi maafkan, hatiku masih malu pada otakku
posted by Unknown
Jangan tanya apakah kehadiranmu membikin jemu
Malah aku menunggu
posted by Unknown
Seseorang menggores kalimat untuk kuis
"Jelaskan bagaimana 'tak harus memiliki' itu agar tak menjadi klise"
Saya masih baru. Saya dapat E.
posted by Unknown
Deru kereta di kejauhan makin lama makin mendekat membawa ratusan jiwa yang berpeluh dan lelah
Seketika kuingat kamu
Tapi bukan sekarang waktunya kamu ada bersama ratusan jiwa yang menyeruak keluar di jalur dua
Dan kalau pun ada kau, tak mungkin kau turun di jalur satu tempatku menunggu kereta yang membawaku menjauh dari kota
Kutunggu kau di jalur dua tempatnya jiwa berkumpul datang ke keagungan metropolitan.
posted by Unknown
Sinar mentarilah yang menuntunnya
Desir angin yang berkisah padanya
Alam mengajarinya banyak hal
Dan berbudi baik ia dapatkan dari kawan
Dengan begitu, ia tak butuh yang lain.
posted by Unknown
Entah mengapa makan siangku tadi tak seenak kemarin
Dan minuman kurang dapat melenyapkan dahaga
Bincang-bincang pun serasa hambar.
Entah aku yang sakit atau memang kau sedang tak ada di antara mereka
posted by Unknown
Jariku yang lebih lincah luncurkan kata-kata
Daripada lidahku
Saat aku
Berujar padamu
posted by Unknown
Begitu kikir kau dengan air matamu
Sampai-sampai harus aku yang meneteskan air mata
Untukmu
Seorang
?
Copyright Feriz' Corner 2011
Powered by Your Inspiration Web
Converted by Smashing Blogger for LiteThemes.com