Mengambil air untuk mensucikan diri rasanya sia-sia. Mana mungkin jadi suci jika masih kutinggalkan puluhan anak yang ditinggal bapak,
Yang mempunyai perut cekung,
Mata kelabu,
Wajah masam,
Serta ibu-ibu yang hanya bisa masak kerikil untuk makan anak-anaknya.
Kusebut namaMu,
Tapi mungkin Kau tidak mendengarkanku berseru mengagungkanMu
Hanya terdengar seperti lolongan serigala di malam purnama
yang melolong di malam hari,
dan tidak di siang hari,
seperti aku yang menundukkan kepala di hadapanMu,
di saat sunyi,
dan tidak di saat gaduh.
Dari dulu dan sekarang aku juga milikMu
Apa aku memilikiMu?
Saat matahari sepenggalahan adalah saat penentuan nasibku
Aku seperti telur di ujung tanduk,
yang bersiap akan tergelincir, pasti tergelincir,
dan saat aku tergelincir, izinkan aku menggapai lindunganMu
Esok, dihadapan puluhan mata, aku akan tak berdaya
dan Kau tahu aku dari dulu, hanya pura-pura tangguh
Di hadapanMu, aku
Kuharap Kau masih mau membukakan pintu untuk bajuku yang berlumur darah dan digelayuti nyawa tak berdosa.
posted by Unknown