Menunggu bukan berarti laknat karena salahmu
Bisa saja itu cara Tuhan
Agar kamu berpikir dulu sebelum melangkah
Hingga kamu siap jika taksi lain datang
Archive for 2013
posted by Unknown
posted by Unknown
posted by Unknown
posted by Unknown
posted by Unknown
Kenanglah aku sebagai kawan yang sederhana
Kawan yang hanya ingin bermimpi dan mengejar mimpinya
Walau mimpi itu setinggi bintang dan lebih cepat larinya daripada cahaya
Kenanglah aku dalam kerumitan dan kesederhanaannya
Kebenaran dan kekhilafannya
Keberhasilan dan kegagalannya
Keceriaan dan kesenduannya
Bila aku berhasil, anggaplah aku hanya mencapai satu di antara bukit impian
Bila aku gagal, ingatkan aku bahwa aku sudah menyentuh pinggiran impian
Bila dalam kataku terdapat kebenaran, anggaplah aku memang sudah belajar
Bila dalam kataku ada khilaf, ingatkan aku untuk selalu belajar
Memang tak puitis sama sekali, Kawan, tapi hanya ingin kau kenang
Khilaf dan salah dariku, kumohon kau buang di pinggir jalan itu
Kenang kebaikanku walau kautemui hanya satu
posted by Unknown
Bukan, bukan kata-kata yang (maunya) gue bikin indah lagi. *tiba-tiba kecoa lewat*
Yak. Gini deh, gue bikin tulisan ini atas dasar prihatin karena banyak banget berita di koran, atau televisi, yang mengabarkan tentang skandal-skandal macem skandal suap sampe skandal cinta *lah?
Menurut gue, nggak seharusnya negara kita ini dipenuhi skandal-skandal begituan, karena kita udah punya dasar yaitu Pancasila. Berat ye? Tapi ini kenyataan, broh.
Sila pertama kita yaitu "Ketuhanan Yang Maha Esa" harusnya sih udah bisa jadi tameng agar kita nggak ngelakuin macem-macem. Kan katanya Pancasila dibuat sesuai kepribadian Indonesia. Dan emang begitulah sejatinya kepribadian kita. Sejatinya kita tahu bahwa ada mata-mata nggak terlihat yang ngawasin kita tiap kali mau berbuat sesuatu.
Tapi skandal itu tetep ada.
Kayak nggak mungkin kita memberantas kejahatan di muka bumi. Bahkan ada orang yang punya pendapat (waduh siapa namanya) yaitu "kejahatan itu emang mesti ada" biar jadi kontrol.
Kalo nggak mungkin memberantas kejahatan, seenggaknya kita reduksi lah. Kalo menurut gue sih ya, kita perlu menyelaraskan moral dan ritual kita sehari-hari.
Norma (ya norma segala macem lah) paling banyak mengombinasikan ritual dan pelajaran moral yang diajarkan. Menurut gue, itulah yang langka sekarang ini. Sekarang, ritual dan moralnya jadi kepisah. Tanpa dosa, mereka masih rajin ngerjain ini-itu tapi ada yang nggak nerapin di kehidupan sehari-hari. Jadi pecah, makanya artikel gue yang ini gue kasih "Pecah".
Bukannya mau nyinggung pihak tertentu, sob. Gue juga masih ga ngejalanin beberapa kewajiban gue, masih suka males-malesan, masih banyak dosa.... Tapi mari kita sama-sama berusaha menyelaraskan, yang tadi itu. Mungkin kalo tiap orang (dan gue) udah bisa, mungkin negara kita tercinta ini dan kehidupan dunia akan jadi lebih aman, damai, tentrem, aman, dll. Yang enak buat tempat idup.
posted by Unknown
Katamu, "Tuhan tak ingin aku penat dalam kebisingan, kalau ingin mendengar, aku hanya perlu membaca."
Nah. Sekarang kamu membuktikannya. Kamu mendengar nyiur menembang resah di pesisir tempo hari, dengan membaca liukan batang nyiur yang semuanya menurut arah datangnya sang bayu. Kamu mendengar desir angin di malam yang sunyi di mana sang surya belum waktunya untuk menampakkan dirinya, dengan membaca rasi bintang. Mendengar dekut pelan burung hantu dengan membaca gelagat keluarga tikus masuk ke sarang di bawah tanah.
Kini aku mengais rezeki di dalam studio. Mengandalkan suara. Jangan lupa, pukul 10 malam di saat orang-orang akan berangkat tidur. Akan kuputar lagu dan sampaikan pesan dari orang-orang kesepian dan gundah gulana --- mungkin menanti kekasihnya.
Dan kamu tak pernah ingkar janji, setelah selesai mengudara kamu selalu, dengan vespa-mu itu, menungguku untuk membawaku kembali ke sarang. Tapi aku mau suatu saat kamu menunggu di depan radio-mu. Mendengarkanku dengan membaca derai tawa yang tercermin dalam lonjakan-lonjakan kecil yang biasa ada di radio. Apa lah itu namanya.
Aku lupa. Di radiomu tidak ada yang seperti itu.
posted by Unknown
Cincin yang kauberi tempo dulu sekarang tak lebih dari
piring seng yang kau layangkan itu
Kenangan dan belai tanganmu seakan tak berbekas
tenggelam dalam bilur-bilur
biru dan meradang
Waktu yang kau janjikan dulu sekarang tak lebih dari
sedetik untuk mendera
Kata dan rayumu sekarang tak lebih dari
caci maki belaka nan panas
Piring, mangkok, panci, vas bunga
membuat gaduh suasana membentuk paduan
Paduan terjelek tapi angkuh yang sebenarnya
tak ingin kudengar
tak kuinginkan kau untuk membikinnya
Bingkai foto (dan fotonya) anak-anak, lalu foto kita juga
Setelah itu apalagi yang 'kan kau buat terbang?
Sekarang darah segar mengalir di sudut bibirku
Setelah kepala, tangan, bibir, lalu apalagi?
Ya; tanganmu mulai melayang lagi
Kurasa ini jawaban dari yang ditanyakan anakku tempo hari
"Mama, perang dunia itu, gimana sih?"
posted by Unknown
Persetan dengan kamu
yang tidak ingin atau tidak tahu
Atau segala ketidakjelasan ini
Atau segala jurang dan anak sungai yang membelah daratan
Persetan; yang penting
Aku mencintaimu
posted by Unknown
posted by Unknown
Ini dia, setelah udah lama vakum, akhirnya gue berhasil melemaskan tangan lagi..... Yang belum ada judulnya, kasih aja judul sendiri hehehe....







