Katamu, "Tuhan tak ingin aku penat dalam kebisingan, kalau ingin mendengar, aku hanya perlu membaca."
Nah. Sekarang kamu membuktikannya. Kamu mendengar nyiur menembang resah di pesisir tempo hari, dengan membaca liukan batang nyiur yang semuanya menurut arah datangnya sang bayu. Kamu mendengar desir angin di malam yang sunyi di mana sang surya belum waktunya untuk menampakkan dirinya, dengan membaca rasi bintang. Mendengar dekut pelan burung hantu dengan membaca gelagat keluarga tikus masuk ke sarang di bawah tanah.
Kini aku mengais rezeki di dalam studio. Mengandalkan suara. Jangan lupa, pukul 10 malam di saat orang-orang akan berangkat tidur. Akan kuputar lagu dan sampaikan pesan dari orang-orang kesepian dan gundah gulana --- mungkin menanti kekasihnya.
Dan kamu tak pernah ingkar janji, setelah selesai mengudara kamu selalu, dengan vespa-mu itu, menungguku untuk membawaku kembali ke sarang. Tapi aku mau suatu saat kamu menunggu di depan radio-mu. Mendengarkanku dengan membaca derai tawa yang tercermin dalam lonjakan-lonjakan kecil yang biasa ada di radio. Apa lah itu namanya.
Aku lupa. Di radiomu tidak ada yang seperti itu.
posted by Unknown